Rabu, 02 November 2016

Contoh Autobiograpy

Saya mempunyai teman yang bernama Deti Anita , biasa dipanggil deti. Ayah nya bernama Saharudin dan Ibunya bernama Ramnah. Ia anak bungsu dari 3 bersaudara, 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Deti di lahirkan di sebuah kota yang bernama Pekanbaru  pada tanggal 31 juli 1997, dan dia dibesarkan oleh kedua orang tuanya disana tepatnya di Kecamatan Marpoyan Damai, Riau. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ayah saya hanyalah seorang pemotong pohon sagu yang bekerja semnjak tamat SD dan sampai sekarang masih melakukan pekerjaan tersebut sedangkan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Namun, walaupun kami hidup dengan sederhana tapi kami hidup bahagia. Kedua orang tua kami mendidik mendidik kami dengan baik  dan alhamdulillah kakak-kakak dan abang saya sukses semua dalam belajar menjadi seorang sarjana dari masing-masing universitasnya. Saya bangga akan pengorbanannya dan saya saying dengan mereka. Karena tanpa mereka kami tidak akan pernah tahu seperti apa bentuk dunia ini, tidak akan tahu seperti apa cinta dan kasih sayang darinya, dan tidak akan pernah merasakan yang namanya hidup.
          Hobi Deti membaca novel, mendengarkan musik, joging dan makan.  Makanan kesukaan nya adalah nasi padang.  Dia sangat unik, walaupun ia hanya menyukai olahraga joging, ia sangat senang melihat atletik nasional yang pernah menjuarai dan meraih beberapa medali untuk membela tanah air kita Indonesia dalam beberapa tahun silam. Dari situlah ia mulai tertarik dengan olah raga joging selain untuk kesehatan juga banyak lagi manfaat lain nya.
          Keluarga nya termasuk keluarga yang lumayan taat beribadah, dari kecil ia sudah diajarkan ibunya untuk selalu melaksanakan sholat lima waktu. Waktu kecil dan sampai sekarang setiap azan datang, ibu nya selalu cerewet menyuruh nya segera melaksanakan sholat karena ibu nya mengatakan jika melalaikan sholat berarti kita tidak menuruti tiang agama Islam dan termasuk kedalam golongan orang-orang kafir. Ketika usia nya memasuki 5 tahun orang tua nya menyuruh kakak nya yang pertama untuk membawa nya kesekolah SD agar ia bisa belajar. 
          Sekitar usia nya menginjak 5 tahun setengah ia langsung menduduki bangku SD, mungkin sebagian orang berfikir kenapa tidak pada umur 6 tahun? Padahal pada umumnya anak-anak disekolahkan untuk memasuki Sekolah Dasar pada usia 6 tahun. Itu dikarenakan ia sudah bisa membaca dan berhitung dan kakak nya mengatakan ia sudah layak memasuki Sekolah Dasar dikota nya sendiri. Saat itu ia bersekolah di SDN 25 Pekanbaru. Selama sekolah di sana ia pernah mendapat peringkat 1 dan ia mendapatkan peringkat 2 sebanyak 2 kali. Deti  berangkat kesekolah tidak diantar oleh orang tua nya, tapi ia berangkat dan pulang sekolah bersama kakak nya. Karena waktu itu, orang tuanya setelah sholat subuh mereka berangkat untuk bekerja dan tidak sempat untuk mengantarkan iakesekolah.
          Akhirnya pada tahun 2007  Deti lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi pada tahun tersebut. Dia  memilih melanjutkan pendidikan ke SMPN 3 yang masih berada di kota Pekanbaru. Pada hari pertama saya masuk, saya sangat canggung dikarenakan jumlah siswa yang lebih banyak dari jumlah siswa waktu ia sekolah dasar tentunya memiliki karakter dan tingkah laku yang beragam dan tidak semua orang baik disana. Berbagai macam karakter orang yang telah ia temui. Sepeti pemerasan, pemaksaan, dan perokok. Pada umumnya mereka berangkat kesekolah menggunakan motor milik orang tuanya, ada juga yang menggunakan sepeda dan berjalan kaki termasuk ia sendiri. Dia kadang-kadang diantar oleh abang nya menggunakan motornya, karena saat itu ia sekolah sambil berdagang . Pulang sekolah ia berjalan kaki bersama teman-teman dengan membawakan dagangan nya, jarak sekolah kerumah nya lumayan jauh. Setelah kelas 2 SMP ia dibelikan sepeda, ia berangkat sekeloah dengan menggunakan sepeda yang begitu cantik dari orang tua nya. Terkadang ia mengeluh karena uang jajan yang dikasih ibunya hanyalah seribu sampai 2 ribu rupiah, tidak seperti teman-teman lainnya dengan uang jajan yang di kasih orang tuanya begitu besar. Terkadang ia juga iri melihat teman-teman disekolah makan sesuka hati tanpa mengkhawatirkan uangnya habis. Namun ia tidak seperti mereka yang kebutuhannya mencukupi. Walaupun demikian ia tidak pernah menuntut ibunya untuk memberikan uang jajan seperti mereka, karena ia mengerti akan keadaan ekonomi pada waktu itu. Deti  juga tidak pernah bolos atau merengek karena uang jajan yang dikasih ibunya sangatlah kurang bagi nya, karena ia tahu masih banyak orang diluar sana yang lebih serba kekurangan dari pada keluarga nya. Bahkan ada diantara mereka yang tidak mendapatkan pendidikan sama sekali, walaupun sekolah gratis tapi orang tua mereka tidak sanggup untuk membelikan baju seragam beserta buku dan alat tulis untuk anaknya. Oleh karenanya ia selalu bersyukur kepada yang Maha Kuasa karena diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Alhamdulillah ia di SMP pernah mendapat peringkat 3 dan 10 besar seperti peringkat 5, 6, dan 7. Di sekolah, ia pernah menjadi anggota OSIS yang menjabat sebagai bendahara OSIS dan ia juga ikut menjadi anggota pramuka yang semenjak dari SD yang ia jalani.
          Pada tahu 2010 alhamdulillah ia lulus dari SMPN 3 Pekanbaru dan mengambil jenjang yang lebih tinggi lagi. Deti  memilih SMA Negeri 2 Pekanbaru. Alasan ia kenapa memilih sekolah disana karna sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang terkenal di Kota Pekanbaru. Lama perjalanan dari rumah kesekolah sekitar setengah jam dengan melewati  jalan raya yang sangat ramai kendaraan melintas. Beberapa kali ia pernah mengalami kecelakaan melewati jalan tersebut ketika berangkat kesekolah maupun pulang sekolah. Walau demikian, itu tidak menurunkan semangat nya untuk menuntut ilmu disana.
Sewaktu kelas 1 SMA ia mengikuti ekstra musik yg salah satu ia gemari. Setiap minggunya ia melaksanakan latihan bersama teman-teman nya yang didampingi oleh kakak senior. Beberapa dari kakak senior memanggil nama nya dengan sebutan Anita. Namun, setelah ia naik ke kelas 2 ekstra tersebut tidak pernah aktif lagi. dia berhasil mengambil jurusan IPA setelah kenaikan kelas tersebut. dikelas 2 ia memiliki teman-teman yang penuh kekompakan satu sama lainnya. Sampai suatu ketika, mereka bermain karet didalam kelas ketika guru tidak masuk. Hampir satu kelas yang ikut bermain karet meskipun mereka main tidak menggunakan taruhan. Setelah beberapa lama mereka bermain karet, akhirnya mereka tertangkap basah oleh kesiswaan. Mereka  dihukum satu kelas, dan yang pernah ikut main karet nama-namanya dimasukkan ke buku kasus. Tapi setalah itu mereka tidak mengulanginya lagi.
Pada tanggal 12 April 2012 di kelas tiga SMA ia melaksanakan ujian nasional (UN). ia ketakutan menghadapi ujian ini, karena ini merupakan ujian yang menentukan masa depan nya. Oleh Karen itu, seminggu sebelum UN dilaksanakan ia benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh. Karena ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tua nya yang telah bersusah payah menyekolahkan nya sampai sekarang dengan ikhlas tanpa mengharapkan belas kasihan apapun dari anaknya. Yang selalu menyayangi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Maka dari itu ia harus memberikan yang terbaik untuk mereka terutama pada ibunya yang telah mengandung nya selama 9 bulan dengan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anaknya. Yang telah menyusui dan membesarkan ia dengan penuh kasih sayang yang mana sampai saat ini ia tidak akan bisa membalas semua itu. Tapi deti akan lakukan yang terbaik untuk membalas semua jasa yang telah diberikan kepada nya dan ia anggap jasa yang telah diberikan selama ini kepada nya merupakan hutang yang harus ia lunasi kepada ibunya.
Setelah ujian nasional selesai,mereka mendapat berita bahwa dari salah satu teman nya meninggal dunia mereka sangat terpukul dengan kepergiannya, karena begitu banyak kenangan yang mereka lalui bersamanya penuh suka dan duka. Pada tanggal 2 mei 2013 yang mana pada hari itu kelulusan nya diumumkan lewat sebuah amplop dari sekolah sebelum ia menerima amplop tersebut ia berdo’a di dalam hati agar diberi kelulusan dengan nilai yang sesuai kemampuan ia. Deti merasa takut, cemas namun ia penasaran untuk membukanya jantung nya mulai berdebaar kencang. Melihat teman-teman sekolah sudah membuka amplopnya semuanya bergembira, tapi ada beberapa teman angkatan pula yang harus menerima kenyataan pahit serta kekecewaan. Hal itu membuat nya semakin ketakutan. Lalu ketika ia menerima amplop tersebut dari wali kelas jantung nya semakin kencang berdebar, perlahan ia membukanya dengan membaca bismillah dan berdo’a kepada Allah sambil berharap diluluskan. Setelah mengetahui isi amplop tersebut, alhamdulillah akhirnya semua perasaan itu lega, utang nya kepada ibunya sedikit demi sedikit berkurang karena ia lulus ujian nasional. Dia sangat bersyukur karena Allah SWT telah menjawab do’a nya, tidak sabar dia ingin membagi kebahagiaan ini kepada orang tua nya. Dia segera pulang menemui orang tuanya dan memberi tahunya bahwa ia lulus dan itu membuat orang tua nya terharu. Sorenya ia kembali bergabung bersama teman-teman untuk merayakannya. Mereka pergi ke tempat perkumpulan semua sekolah seperti SMA, SMK, dan MA. Kebanyakan orang disana mengecat baju seragam mereka dengan berbagai pola hiasan. Namun ia tidak karena kepala sekolah melarang mereka untuk mengecat baju. Jadi ia lebih memilih untuk menyumbangkan seragam nya kepada junior nya karena ia yakin banyak adik-adik disekolah yang membutuhkan seragam nya, dan juga dia paham bagaimana orang tua bersusah payah untuk melengkapi kebutuhan sekolah anaknya.

deti sangat ingin sekali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Sewaktu SMA saya mengikuti program SNMPTN saya mendaftarkan diri di Universitas Negeri Riau. Namun Allah belum berkehendak lain, ia tak mau putus asa. Setelah SNMPTN berlalu, ada lagi program SBMPTN yang ia ikuti. dia berusaha dan berdo’a agar ia bisa diterima di universitas negeri. Tapi tetap Allah belum berkehendak. Akhirnya ia mengikuti SPMB di Universitas Lancang Kuning dengan jurusanFkip Bahasa Inggris. Deti terus berusaha dan berdo’a dan Allah pun mengabulkan do’a nya. Deti lulus di jurusan itu. dia sangat bersyukur atas semua karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Dia tidak akan mampu melakukannya sendirian tanpa dukungan kedua orang tua nya, kaka-kakak dan teman-teman yang selalu member semangat ia untuk terus berusaha. Dia juga berterima kasih yang sangat dalam sekali kepada Universitas Unilak yang ia cintai yang telah memberi ia kesempatan untuk bisa kuliah disana. Dia akan terus berusaha demi sebuah kesuksessan nya dari sekarang dan untuk masa depan yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar